Rabu, 22 Juni 2022

DEDI (Daily English Diary)

 

Aksi Nyata

Modul 3.3.a.10 Pengelolaan Program yang Berdampak bagi Murid

DEDI (Daily English Diary)

 

 

 

Peristiwa ( Facts )

Latar Belakang

Efek dari pandemi covid -19 yang melanda dunia 2 tahun terakhir sungguh terasa di dunia pendidikan terutama pembelajaran yang mengandalkan interaksi antar guru dan murid seperti bahasa asing. Sebagian besar sekolah yang menerapkan pembelajaran secara daring atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sudah barang tentu membuat interaksi antar guru dan murid sangat terbatas. Seharusnya kemajuan teknologi membuka akses yang besar bagi murid untuk belajar bahasa asing (baca: Bahasa Inggris) dengan mudah. Namun pada kenyataannya sebagian besar murid terlalu malas ‘belajar’ bahasa asing melalui internet. Pun di sekolah tempat CGP mengajar, murid tidak termotivasi untuk belajar Bahasa Inggris secara mandiri melalui internet. Sebagai akibatnya, ketika pembelajaran luring diberlakukan, anak yang kemampuan Bahasa Inggris pada saat tes menggunakan google form bagus ternyata kemampuannya secara nyata sangat jauh dari yang diharapkan. Seperti diketahui bersama bahwa kunci dari bahasa adalah kosa kata. Semakin banyak kosa kata yang dikuasai, semakin besar kemampuan orang untuk berbicara menggunakan bahasa dengan kosa kata tersebut. Sebagian besar murid di sekolah CGP kemampuan kosa katanya sangat rendah.

Alasan melakukan aksi

Rendahnya kosa kata yang dikuasai sebagian besar murid di sekolah CGP membuatnya berinisiatif  untuk memunculkan program yang memfasilitasi anak untuk mendapatkan kosa kata tanpa merasa terkekang atau terpaksa belajar. Seorang penyair bernama Pramoedya Ananta Toer berkata ‘jika ingin melihat dunia maka membacalah, jika ingin dikenal dunia maka menulislah.’ Dari kata-kata beliau tercermin bahwa membaca dan menulis adalah dua kegiatan yang sama-sama memberi dampak yang positif  bagi pelakunya. Logikanya, untuk menguasai kosa kata dalam Bahasa Inggris, seyogyanya murid banyak membaca teks dalam Bahasa Inggris. Namun karena kegiatan ini sangat sulit dilihat tolok ukurnya, maka penulis membuat program menulis diary dalam Bahasa Inggris dan mendiskusikannya dengan perwakilan murid untuk memunculkan student agency (kepemimpinan murid) dan guru Bahasa Inggris tingkat MGMP sekolah, Kepala Sekolah sebagai pemegang kebijakan serta stakeholder bidang literasi

 

 

Aksi Nyata yang dilakukan

Dalam proses pengelolaan program yang berdampak bagi murid ini CGP melakukan diskusi dengan Kepala Sekolah sebagai pemegang kebijakan sekolah mengenai program ‘DEDI’ dan selanjutnya  bersama rekan sejawat (guru Bahasa Inggris) dan komunitas praktisi literasi di sekolah merancang bagaimana program menulis diary dalam Bahasa Inggris  ini dapat berhasil mencapai tujuan akademik dan non akademik murid. CGP juga melakukan dialog dengan rekan sejawat (guru Bahasa Inggris) untuk mengidentifikasi interaksi sosial murid dengan teman/ guru Bahasa Inggris dalam Bahasa tersebut secara positif, arif dan bijaksana.

 

CGP bersama perwakilan murid dari tiap kelas melakukan curah pendapat mengenai bentuk diary yang diinginkan murid untuk mempromosikan student agency. Selanjutnya CGP menyediakan ruang dialog untuk murid di tiap jenjang kelas membahas mimpi dan dampaknya dalam program ini serta menyediakan ruang dialog untuk guru, rekan sejawat dan komunitas praktisi literasi untuk membahas jawaban-jawaban murid

 

Komitmen dari murid penting dalam pelaksanaan program ini dalam keseharian. Mereka dapat menentukan bagaimana cara terbaik yang menarik dan menyenangkan bagi mereka.  Namun demikian mereka juga difasilitasi untuk mengorganisasi proses penentuannya di antara mereka dengan memberi wewenang pada murid yang membawahi temannya untuk mengadakan koordinasi dan tata cara pelaksanaan program maupun pengumpulan diary


Gambar 1 : Diskusi dengan Kepala Sekolah mengenai program yang berpihak pada murid


 Gambar 2: Curah pendapat dengan perwakilan  murid untuk mempromosikan voice, choice dan ownership.


Gambar 3 : Curah pendapat dengan rekan guru Bahasa Inggris tingkat MGMPS dan komunitas praktisi literasi.


Gambar 4 : Contoh produk ‘DEDI’_diary murid

Perasaan ( Feelings )

CGP sebagai guru Bahasa Inggris merasa tertantang dan termotivasi untuk membuat dan mengelola program yang berdampak positif bagi murid sebagai bentuk perwujudan student agency (kepemimpinan murid). Program ini diharapkan tidak hanya berdampak bagi diri CGP sendiri karena murid yang meningkat kosa katanya namun juga bagi murid. Dengan penerapan program intra-kurikuler ‘DEDI’, murid bisa lebih bahagia menguasai kosa kata dalam Bahasa Inggris tanpa merasa tertekan dan terkesan belajar karena mereka bisa menulis diary dengan gaya yang mereka inginkan (voice); memilih kegiatan/aktifitas yang ingin mereka tulis (choice); serta menjalankan program menulis diary tanpa paksaan (ownership) sehingga terwujud kharakter lingkungan yang melatih ketrampilan yang dibutuhkan murid dalam proses pencapaian tujuan akademik maupun non akademiknya dan kharakter lingkungan yang mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial secara positif, arif dan bijaksana

Pembelajaran ( Findings )

CGP menerapkan cara membuat dan mengelola program yang berdampak pada murid dengan harapan dapat mewujudkan pendidikan yang bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.melalui tahapan-tahapan yang telah dipelajari di modul 3.3 ini antara lain: memetakan aset; menentukan strategi dengan tahapan BAGJA; mengelola resiko ( manajemen resiko) menerapkan prinsip monitoring dan evaluasi.

Penerapan ( Future )

Ada beberapa hal yang ingin diterapkan CGP dalam setiap pembuatan dan pengelolaan program di masa depan yakni selalu mengedepankan student agency (kepemimpinan murid) dan juga menerapkan tahapan-tahapan seperti memetakan aset; menentukan strategi dengan ‘BAGJA’; mengelola resiko ( manajemen resiko) sehingga bisa meminimalisir efek negative dari program yang dibuat; menerapkan prinsip monitoring dan evaluasi sehingga terwujud mimpi murid yang bertindak secara aktif dan membuat keputusan serta pilihan yang bertanggung jawab bukan sekedar menerima apa yang ditentukan oleh orang lain.

Minggu, 24 April 2022

Koneksi Antar Materi: Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

 


Datik Wuryaningsih adalah Calon Guru Penggerak Angkatan 4 dari SMA Negeri 1 Mojolalaban Kabupaten Sukoharjo. Pada Koneksi Antar Materi Modul 3.1.a.9 terkait Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran ada 10 pertanyaan pemantik yang mengaitkan materi ini dengan materi –materi sebelumnya, yaitu;

1. Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Menurut saya Filosofi Pratap Triloka yaitu ing ngarso sung tuladha memberikan pengaruh yang besar dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Karena sesuai dengan artinya di depan memberi contoh, seorang guru harus memberikan teladan atau contoh praktik baik kepada murid. Selain itu setiap pengambilan keputusan, seorang guru harus memberikan karsa atau usaha keras sebagai wujud filosofi Pratap Triloka ing madyo mangun karsa dan pada akhirnya guru membantu murid untuk dapat menyelesaikan atau mengambil keputusan terhadap permasalahannya secara mandiri. Pada akhirnya guru hanya sebagai pamong yang mengarahkan murid menuju kebahagiaan menghindarkan dari jurang kesengsaraan sesuai dengan filosofi Pratap Triloka Tut Wuri Handayani.

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Setiap guru seharusnya memiliki nilai-nilai positif yang sudah tertanam dalam dirinya yaitu nilai-nilai positif yang mampu mempengaruhi dirinya untuk menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid. Nilai-nilai yang membimbing dan mendorong pendidik untuk mengambil keputusan yang tepat dan benar. Nilai-nilai positif seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak pada murid merupakan prinsip yang dipegang teguh ketika kita berada dalam posisi yang menuntut kita untuk mengambil keputusan dari dua pilihan yang secara logika dan rasa keduanya benar, berada situasi dilema etika (benar vs benar) atau berada dalam dua pilihan antara benar melawan salah (bujukan moral) yang menuntut kita berpikir secara seksama untuk mengambil keputusan yang benar.

Keputusan tepat yang diambil tersebut merupakan buah dari nilai-nilai positif universal yang dipegang teguh dan dijalankan akan mengarahkan kita mengambil keputusan dengan dampak minimal. Keputusan tersebut bisa menunjukkan keberpihakan pada murid.

Nilai-nilai positif mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif serta berpihak pada murid adalah manifestasi dari pengimplementasian kompetensi social emosional kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran social dan keterampilan berinteraksi social dalam mengambil keputusan secara berkesadaran penuh untuk meminimalisir kesalahan dan konsekuensi yang akan terjadi.

3. Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Praktik coaching sangat efektif untuk menggali suatu masalah yang sebenarnya terjadi baik masalah dalam diri kita maupun masalah yang dimiliki orang lain. Langkah-langkah coaching model TIRTA, dapat membuat seorang coach dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat coachee bisa menemukan solusi masalah secara sistematis. Konsep coaching TIRTA sangat ideal apabila dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil.

Pembimbingan yang telah dilakukan oleh pendamping praktik dan fasilitator telah membantu saya berlatih mengevaluasi keputusan yang telah saya ambil. Apakah keputusan tersebut sudah berpihak kepada murid, sudah sejalan dengan nilai-nilai kebajikan universal dan apakah keputusan yang saya ambil tersebut akan dapat saya pertanggung jawabkan.

TIRTA adalah satu model coaching yang diperkenalkan dalam Program Pendidikan Guru Penggerak saat ini. TIRTA dikembangkan dari Model GROW. GROW adalah akronim dari Goal, Reality, Options dan Will.

Goal (Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini,

Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee,

Options (Pilihan): coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi.

Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.TIRTA akronim dari :

: Tujuan

: Identifikasi

: Rencana aksi

TA: Tanggung jawab

4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Guru harus mampu memfasilitasi murid dengan minat dan gaya belajar yang berbeda-beda di kelas sehingga dalam proses pembelajaran murid mendapatkan pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai profil belajar mereka masing-masing. Untuk itu diperlukan pengambilan keputusan yang tepat agar seluruh kepentingan murid dapat terakomodir dengan baik. Kompetensi sosial dan emosional diperlukan agar guru dapat fokus memberikan pembelajaran dan dapat mengambil keputusan dengan tepat dan bijak sehingga dapat mewujudkan merdeka belajar di kelas maupun di sekolah.

5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Keberpihakan dan mengutamakan kepentingan murid dapat tercipta dari tangan guru yang mampu membuat solusi tepat dari setiap permasalahan yang terjadi. Pendidik yang mampu melihat permasalahan dari berbagai kaca mata dan pendidik yang dengan tepat mampu membedakan apakah permasalahan yang dihadapi termasuk dilema etika ataukah bujukan moral.

Seorang guru ketika dihadapkan dengan kasus-kasus yang fokus terhadap masalah moral dan etika, baik secara sadar atau pun tidak akan terpengaruh oleh nilai-nilai yang dianutnya. Nilai-nilai yang dianutnya akan mempengaruhi dirinya dalam mengambil sebuah keputusan. Jika nilai-nilai yang dianutnya nilai-nilai positif maka keputusan yang diambil akan tepat, benar dan dapat dipertanggung jawabkan dan begitupun sebaliknya jika nilai-nilai yang dianutnya tidak sesuai dengan kaidah moral, agama dan norma maka keputusan yang diambilnya lebih cenderung hanya benar secara pribadi dan tidak sesuai harapan kebanyakan pihak.Kita tahu bahwa Nilai-nilai yang dianut oleh Guru Penggerak adalah reflektif, mandiri, inovatif, kolaboratif dan berpihak pada anak didik. Nilai-nilai tersebut akan mendorong guru untuk menentukan keputusan masalah moral atau etika yang tepat sasaran, benar dan meminimalisir kemungkinan kesalahan pengambilan keputusan yang dapat merugikan semua pihak khususnya peserta didik.

6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat tekait kasus-kasus pada masalah moral atau etika dapat dicapai  melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Dapat dipastikan bahwa jika pengambilan keputusan dilakukan secara akurat melalui proses analisis kasus yang cermat dan sesuai dengan 9 langkah tersebut, maka keputusan tersebut diyakini akan mampu mengakomodasi semua kepentingan dari pihak-pihak yang terlibat , maka hal tersebut akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

7. Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Kesulitan- kesulitan yang muncul antara lain: budaya sekolah yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun seperti sistem yang kadang memaksa guru untuk memilih pilihan yang salah atau kurang tepat dan tidak berpihak kepada murid; tidak semua warga sekolah berkomitmen tinggi untuk menjalankan keputusan bersama; keputusan yang diambil kadang kala tidak sepenuhnya melibatkan guru sehingga muncul banyak kendala-kendala dalam proses pelaksanaan pengambilan keputusan.

Ya ini kembali ke masalah perubahan paradigm di lingkungan saya.

8. Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Semua tergantung kepada keputusan seperti apa yang diambil, apabila keputusan tersebut sudah berpihak kepada murid dalam hal ini berkaitan dengan metode yang digunakan oleh guru, media dan sistem penilaian yang dilakukan yang sudah sesuai dengan kebutuhan murid, maka hal ini akan dapat memerdekakan murid dalam belajar dan pada akhirnya murid dapat berkembang sesuai dengan potensi dan kodratnya. Namun sebaliknya apabila keputusan tersebut tidak berpihak kepada murid, berkaitan dengan metode, media, penilaian dan lain sebagainya maka kemerdekaan belajar murid hanya sebuah omong kosong belaka dan tentunya murid tidak akan dapat berkembang sesuai potensi dan kondratnya.

9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Guru sebagai pemimpin pembelajaran yang dalam melakukan pengambilan keputusan bisa memerdekakan dan berpihak pada murid, maka dapat dipastikan murid-muridnya akan belajar menjadi oang-orang yang merdeka, kreatif , inovatif dalam mengambil keputusan yang menentukan bagi masa depan mereka sendiri. Di masa depan mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang matang, penuh pertimbangan dan cermat dalam mengambil keputusan-keputusan penting bagi kehidupan dan pekerjaannya. Keputusan yang diambil oleh seorang guru apabila digunakan dengan baik akan membawa kesuksesan dalam kehidupan murid di masa yang akan datang dan sebaliknya apabila keputusan tersebut tidak diambil dengan bijaksana maka bisa jadi berdampak sangat buruk bagi masa depan murid-murid. Keputusan yang berpihak kepada murid haruslah melalui pertimbangan yang sangat akurat dimana dilakukan terlebih dahulu pemetaan terhadap minat belajar, profil belajar dan kesiapan belajar murid untuk kemudian dilakukan pembelajaran berdiferensiasi yaitu melakukan diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk.

10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

1.      Pengambilan keputusan adalah suatu kompetensi atau skill yang harus dimiiki oleh guru dan harus berlandaskan kepada filosofi Ki Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran.

2.      Pengambilan keputusan harus berdasarkan pada budaya positif dan menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being).

3.      Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus memiliki kesadaran penuh (mindfullness) untuk menghantarkan muridnya menuju profil pelajar pancasila.

4.      Dalam perjalanannya menuju profil pelajar pancasila, ada banyak dilema etika dan bujukan moral sehingga diperlukan panduan sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan untuk memutuskan dan memecahkan suatu masalah agar keputusan tersebut berpihak kepada murid demi terwujudnya merdeka belajar.

5.      Demikian koneksi antar materi modul 3.1. Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran, semoga bermanfaat.

Jumat, 01 April 2022

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.3

 

Pmikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan tak lekang oleh waktu. Menurut beliau  pendidikan adalah proses menuntun tumbuh kembangnya anak sesuai dengan kodrat dan iradat yang dimilikinya agar anak tersebut memperoleh kebahagaian dan keselamatan baik sebagai individu maupun bagian dari masyarakat. 

 

a. Peran sebagai Penuntun dan Pembelajaran Berdifferensiasi

 

Pada filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, pendidikan menerapkan sistem among, guru sebagai penuntun. Proses menuntun tersebut dapat dilakukan dengan cara coaching. Dalam coaching guru berperan sebagai coach yang dapat menuntun murid sebagai coachee dengan mengajukan pertanyaan untuk menggali segala potensi dan kemampuan yang dimiliki murid dengan tujuan menuntun dan mengarahkan untuk mencari solusi.

Coach berperan untuk menciptakan kenyamanan bagi coachee melalui keterampilan berkomunikasi dengan baik sehingga timbullah rasa empati, saling menghormati dan saling menghargai.

Dengan kemampuan dan keterampilan bertanya dari seorang coach dapat menyadarkan coachee akan kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya sehingga coachee dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri. Hal ini sangat berkaitan dengan profil pelajar Pancasila mandiri dan bernalar kritis serta nilai reflektif yang dimiliki guru penggerak.

Salah satu fungsi coaching adalah belajar mengenali kekuatan yang dimiliki untuk mengasah dan meningkatkan kemampuan dari coachee. Bila hal ini diterapkan oleh guru sebagai coach kepada muridnya sebagai coachee berarti guru berusaha menggali kekuatan yang ada pada muridnya untuk diasah dan digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.

Salah satu cara untuk meningkatkan potensi dan kemampuan murid adalah dengan mengintegrasikan pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran yang dilakukan dengan amemperhatikan kebutuhan belajar murid berdasarkan minat, profil dan kesiapan belajar. 

Guru sebagai coach akan selalu berupaya untuk menggali kebutuhan belajar murid dengan mendesain proses pembelajaran yang mampu memaksimalkan segala potensi yang dimiliki murid. Selain itu, secara social emosional segala potensi murid dapat berkembang secara maksimal. 

Proses coaching dapat berjalan degan mengoptimalkan ranah sosial emosional sehingga setiap murid mampu menyelesaikan setiap masalah dengan potensi dan kemampuannnya sendiri. Pada akhirnya mereka akan mampu hidup bebas dan merdeka menentukan jalan hidupnya sesuai kekuatan dan potensinya masing-masing.

Coaching yang dilakukan oleh coach kepada coachee  membutuhkan empat keterampilan yaitu: 

1) Keterampilan membangun dasar proses coaching, 

2) Keterampilan membangun hubungan baik, 

3) Keterampilan berkomunikasi, dan

4) Keterampilan memfasilitasi pembelajaran. 

Dalam proses coaching juga ada salah satu model yang biasa digunakan oleh coach yaitu model TIRTA yang meliputi langkah-langkah Tujuan utama pertemuan/pembicaraan; Identifikasi masalah coachee; Rencana aksi coachee; dan Tanggung jawab/komitmen. Dalam Aksi Aspek berkomunikasi untuk mendukung praktik coaching antara lain, Komunikasi Asertif menjadi Pendengar aktif, Bertanya reflektif dan Umpan balik positif.

 

b. Refleksi

 1. Merujuk sistem among guru (coach) menuntun segala potensi murid (coachee) untuk menemukan           solusi dari permasalahannya sehingga bisa menjalani hidup sesuai kodrat yang dimilikinya.

  2. Coaching dapat menuntun murid (coache) untuk berkesadaran penuh mencapai kemerdekaan belajar.

 

 .

Rabu, 23 Februari 2022

Mengapa Pembelajaran Berdifferensiasi

 

Penulis menyimpulkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang dapat mengakomodir kebutuhan belajar murid. Guru memfasilitasi murid sesuai dengan kebutuhannya, karena setiap murid unik dan mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, sehingga tidak bisa diperlakukan sama.

Dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi guru perlu memikirkan tindakan yang masuk akal akan diambil  karena pembelajaran berdiferensiasi tidak berarti pembelajaran dengan memberikan perlakuan atau tindakan yang berbeda untuk setiap murid, maupun pembelajaran yang membedakan antara murid yang pintar dengan yang kurang pintar.

Adapun kharakteristik pembelajaran berdiferensiasi antara lain; lingkungan belajar mengundang murid untuk belajar, kurikulum memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas, terdapat penilaian berkelanjutan, guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar murid, dan manajemen kelas efektif.

Suatu kelas sudah menerapkan pembelajaran berdiferensiasi ketika pada proses pembelajaran guru menggunakan beragam cara agar murid dapat mengeksploitasi isi kurikulum; guru juga memberikan beragam kegiatan yang masuk akal sehingga murid dapat mengerti dan memiliki informasi atau ide; serta guru memberikan beragam pilihan di mana murid dapat mendemonstrasikan apa yang mereka pelajari.

Adapun suatu kelas belum menerapkan pembelajaran berdiferensiasi apabila guru lebih memaksakan kehendaknya sendiri. Guru tidak memahami minat, dan keinginan murid. Kebutuhan belajar murid tidak semuanya terenuhi karena ketika proses pembelajaran menggunakan satu cara yang menurut guru sudah baik, guru tidak memberikan beragam kegiatan dan beragam pilihan.

Untuk dapat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas, hal yang harus dilakukan oleh guru antara lain:

  1. Melakukan pemetaan kebutuhan belajar berdasarkan tiga aspek, yaitu: kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar murid (bisa dilakukan melalui wawancara, observasi, atau survey menggunakan angket, dll)

  1. Merencanakan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan hasil pemetaan (memberikan berbagai pilihan baik dari strategi, materi, maupun cara belajar)
  2. Mengevaluasi dan erefleksi pembelajaran yang sudah berlangsung.

Selanjutnya pemetaan kebutuhan belajar merupakan kunci pokok kita untuk dapat menentukan langkah selanjutnya. Jika hasil pemetaan kita tidak akurat maka rencana pembelajaran dan tindakan yang kita buat dan lakukan akan menjadi kurang tepat. Untuk memetakan kebutuhan belajar murid kita juga memerlukan data yang akurat baik dari murid, orang tua/wali, maupun dari lingkungannya. Dukungan dari orang tua dan murid untuk memberikan data yang lengkap dan benar sesuai kenyataan yang ada tanpa ditambahi dan juga tidak dikurangi sangat menunjang kevalidan dari data. Orang tua dan murid harus jujur ketika guru melakukan pemetaan kebutuhan belajar, baik melalui wawancara, angket, survey, dll.

Berikut ini adalah tiga strategi diferensiasi pembelajaran, yaitu;

1. Direfensiasi konten

Konten adalah apa yang kita ajarkan kepada murid. Konten dapat dibedakan sebagai tanggapan terhadapa kesiapan, minat, dan profil belajar murid maupun kombinasi dari ketiganya.

Guru perlu menyediakan bahan dan alat sesuai dengan kebutuhan belajar murid.

2. Diferensiasi proses

Proses mengacu pada bagaimana murid akan memahami atau memaknai apa yang dipelajari.

Diferensiasi proses dapat dilakukan dengan cara:

a.menggunakan kegiatan berjenjang

b.meyediakan pertanyaan pemandu atau tantangan yang perlu diselesaikan di sudut-sudut minat,

c. membuat agenda individual untuk murid (daftar tugas, memvariasikan lama waktu yang murid dapat ambil untuk menyelesaikan tugas,

d. mengembangkan kegiatan secara bervariasi 

3. Diferensiasi produk

Produk adalah hasil pekerjaan atau unjuk kerja yang harus ditunjukkan murid kepada kita (karangan, pidato, rekaman, doagram) atau sesuatu yang ada wujudnya.

Produk yang diberikan meliputi 2 hal:

a.  memberikan tantangan dan keragaman atau variasi,

b. memberikan murid pilihan bagaimana mereka dapat mengekspresikan pembelajaran yang diinginkan.

Setiap hal pasti aka nada tantangan dan hambatan. Pun dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi tentunya akan ada tantangan dan hambatan. Guru harus tetap dapat bersikap positif dengan menerapkan hal berikut :

  1. Belajar tiada henti dan berbagi pengalaman dengan teman sejawat lainnya yang mempunyai masalah yang sama dengan kita (membentuk Learning Community)   
  2. Berkolaborasi dan saling memberi dukungan dan semangat antar teman sejawat.
  3. Menerapkan apa yang sudah kita peroleh meskipun belum maksimal.
  4. Selalu melakukan refleksi guna mengevaluasi dan memperbaiki proses pembelajaran yang sudah diterapkan. 

Pembelajaran berdiferensiasi sangat berkaitan dengan filosofi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, nilai dan peran guru penggerak, visi guru penggerak, serta budaya positif.

Salah satu filosofi pendidkan menurut Ki Hajar Dewantara adalah sistem “among”, guru harus dapat menuntun murid untuk berkembang sesuai dengan kodratnya, hal ini sangat sesuai dengan pembelajaran berdiferensiasi.

Sedangkan salah satu nilai dan peran guru penggerak yaitu menciptakan pembelajaran yang berpihak kepada murid, yaitu pembelajaran yang memerdekakan pemikiran dan potensi murid. Hal tersebut sejalan dengan pembelajaran berdiferensiasi.

Selanjutnya visi guru penggerak yakni untuk mewujudkan merdeka belajar dan profil pelajar Pancasila. Untuk mewujudkan visi tersebut salah satu caranya adalah dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi.

Terakhir, budaya positif juga harus kita bangun agar dapat mendukung pembelajaran berdiferensiasi.  

 

Sabtu, 08 Januari 2022

Mewujudkan Kemandirian murid dengan Keyakinan Kelas

 


Ki Hajar Dewantara menyebutkan tujuan pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Menurut beliau juga, tujuan pendidikan adalah penguasaan diri, sebab disinilah pendidikan memanusiakan manusia (humanisasi). Penguasaan diri merupakan langkah yang dituju untuk tercapainya pendidikan yang memanusiawikan manusia. Ketika peserta didik mampu menguasai dirinya, maka mereka akan mampu untuk menentukan sikapnya. Dengan demikian akan tumbuh sikap yang mandiri dan dewasa. Beliau juga menunjukkan bahwa tujuan diselenggarakannya pendidikan adalah membantu peserta didik menjadi manusia yang merdeka. Menjadi manusia yang merdeka berarti tidak hidup terperintah, berdiri tegak dengan kekuatan sendiri, dan cakap mengatur hidupnya dengan tertib. Dengan kata lain, pendidikan menjadikan seseorang mudah diatur, tetapi tidak dapat disetir.

Pada Aksi Nyata 1.4 ini, penulis berusaha mewujudkan visi bersama yakni mewujudkan murid yang sejahtera, mandiri dan berbudaya dengan mengedepankan nilai kolaboratif dan peran mewujudkan kepemimpinan murid.

Visi ini selaras dengan kondisi lingkungan murid yang sarat dengan budaya Jawa yaitu lingkungan pembuat wayang, gamelan dan pemain wayang orang, penari dan sebagainya. Diharapkan dengan pencapaian visi ini di masa depan mereka bisa mengembangkan bakat alam mereka dengan baik sehingga menjadi insan yang sejahtera, mandiri dan berbudaya. Penulis menggali satu sikap yang ada pada visi dan juga termasuk dalam nilai yang dipunyai profil pelajar Pancasila yaitu ‘mandiri’.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mandiri adalah tidak tergantung pada orang lain, sedangkan kemandirian adalah keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Mandiri termasuk budaya positif karena mengandung nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab.

Adapun Tujuan dari Aksi Nyata ini adalah sebagai berikut :

1. Kemandirian dijadikan satu dari keyakinan kelas yang dibuat murid.

2. Mewujudkan murid sebagai pemimpin pembelajaran yang mempunyai sikap mandiri dan bertanggung jawab.

3. Mewujudkan pembelajaran yang ‘Tut Wuri Handayani’, guru hanya sebagai fasilitator bukan sumber ilmu.

4. Mewujudkan visi bersama yaitu murid yang sejahtera, mandiri dan berbudaya

    

   Penulis menerapkan aksi nyata dengan memperhatikan kondisi lapangan. Karena situasi pembelajaran masih berupa tatap muka terbatas (PTM terbatas) maka penulis menerapkan strategi untuk mewujudkan aksi nyata ini secara daring maupun luring. Adapun langkah –langkah yang dilakukan Penulis adalah sebagai berikut :

1. Berkolaborasi dengan Kepala Sekolah, rekan sejawat baik guru maupun staf sekolah, orang tua murid terkait dengan kemandirian murid dengan melakukan survey dan interview berdasarkan pengamatan ataupun interaksi mereka dengan murid.

2. Melakukan riset kelas sendiri maupun survey digital tentang kemandirian.

3. Membuar indikator ketercapaian (tolok ukur keberhasilan)

4.Membuat rencana terkait penerapan collaborative teamwork untuk mengatasi kendala mewujudkan kemandirian murid.

5. Melakukan kolaborasi dengan pihak terkait untuk mewujudkan kemandirian murid.

 Penulis menuliskan tolok ukur keberhasilan aksi nyata adalah sebagai berikut :

1. Banyak guru memotivasi murid untuk membuat mandiri menjadi keyakinan kelas

2. Murid menjadi pemimpin pembelajaran yang mempunyai sikap mandiri dan bertanggung jawab.

3. Terwujudnya pembelajaran yang ‘Tut Wuri Handayani’, guru hanya sebagai fasilitator bukan sumber ilmu.

4. Terwujudnya visi bersama yaitu murid yang sejahtera, mandiri dan berbudaya.

 

Ada beberapa tantangan yang dihadapi penulis dalam melaksanakan kegiatan ini yaitu ;

1. Terlalu lamanya kegiatan daring membuat murid menjadi ‘malas’ dan kurang mandiri dalam belajar.

2. Kurangnya antusisme guru untuk mewujudkan kemandirian pada murid.

3. Banyak orang tua yang kurang peduli dengan kemandirian pada anaknya.

 

   Selanjutnya
Penulis membuat keyakinan kelas pada kelas yang diampu baik secara daring maupun luring serta mensosialisasikannya dengan rekan guru lain dengan mengadakan workshop penularan materi filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara dan Budaya Positif di sekolah, berkolaborasi dengan guru BK maupun orang tua murid untuk mengatasi murid yang kurang mandiri.

HASIL AKSI NYATA

                                    


Kolaborasi dengan Kasek terkait kemandirian murid

Wujud kemandirian murid pada class meeting secara daring 

Kolaborasi dengan orang tua mengatasi murid kurang mandiri

Wujud Kemandirian murid belajar di perpustakaan dan menata buku

Diskusi selama pembelajaran wujud kemandirian