Jumat, 01 April 2022

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.3

 

Pmikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan tak lekang oleh waktu. Menurut beliau  pendidikan adalah proses menuntun tumbuh kembangnya anak sesuai dengan kodrat dan iradat yang dimilikinya agar anak tersebut memperoleh kebahagaian dan keselamatan baik sebagai individu maupun bagian dari masyarakat. 

 

a. Peran sebagai Penuntun dan Pembelajaran Berdifferensiasi

 

Pada filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, pendidikan menerapkan sistem among, guru sebagai penuntun. Proses menuntun tersebut dapat dilakukan dengan cara coaching. Dalam coaching guru berperan sebagai coach yang dapat menuntun murid sebagai coachee dengan mengajukan pertanyaan untuk menggali segala potensi dan kemampuan yang dimiliki murid dengan tujuan menuntun dan mengarahkan untuk mencari solusi.

Coach berperan untuk menciptakan kenyamanan bagi coachee melalui keterampilan berkomunikasi dengan baik sehingga timbullah rasa empati, saling menghormati dan saling menghargai.

Dengan kemampuan dan keterampilan bertanya dari seorang coach dapat menyadarkan coachee akan kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya sehingga coachee dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri. Hal ini sangat berkaitan dengan profil pelajar Pancasila mandiri dan bernalar kritis serta nilai reflektif yang dimiliki guru penggerak.

Salah satu fungsi coaching adalah belajar mengenali kekuatan yang dimiliki untuk mengasah dan meningkatkan kemampuan dari coachee. Bila hal ini diterapkan oleh guru sebagai coach kepada muridnya sebagai coachee berarti guru berusaha menggali kekuatan yang ada pada muridnya untuk diasah dan digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.

Salah satu cara untuk meningkatkan potensi dan kemampuan murid adalah dengan mengintegrasikan pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran yang dilakukan dengan amemperhatikan kebutuhan belajar murid berdasarkan minat, profil dan kesiapan belajar. 

Guru sebagai coach akan selalu berupaya untuk menggali kebutuhan belajar murid dengan mendesain proses pembelajaran yang mampu memaksimalkan segala potensi yang dimiliki murid. Selain itu, secara social emosional segala potensi murid dapat berkembang secara maksimal. 

Proses coaching dapat berjalan degan mengoptimalkan ranah sosial emosional sehingga setiap murid mampu menyelesaikan setiap masalah dengan potensi dan kemampuannnya sendiri. Pada akhirnya mereka akan mampu hidup bebas dan merdeka menentukan jalan hidupnya sesuai kekuatan dan potensinya masing-masing.

Coaching yang dilakukan oleh coach kepada coachee  membutuhkan empat keterampilan yaitu: 

1) Keterampilan membangun dasar proses coaching, 

2) Keterampilan membangun hubungan baik, 

3) Keterampilan berkomunikasi, dan

4) Keterampilan memfasilitasi pembelajaran. 

Dalam proses coaching juga ada salah satu model yang biasa digunakan oleh coach yaitu model TIRTA yang meliputi langkah-langkah Tujuan utama pertemuan/pembicaraan; Identifikasi masalah coachee; Rencana aksi coachee; dan Tanggung jawab/komitmen. Dalam Aksi Aspek berkomunikasi untuk mendukung praktik coaching antara lain, Komunikasi Asertif menjadi Pendengar aktif, Bertanya reflektif dan Umpan balik positif.

 

b. Refleksi

 1. Merujuk sistem among guru (coach) menuntun segala potensi murid (coachee) untuk menemukan           solusi dari permasalahannya sehingga bisa menjalani hidup sesuai kodrat yang dimilikinya.

  2. Coaching dapat menuntun murid (coache) untuk berkesadaran penuh mencapai kemerdekaan belajar.

 

 .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar