Sabtu, 08 Januari 2022

Mewujudkan Kemandirian murid dengan Keyakinan Kelas

 


Ki Hajar Dewantara menyebutkan tujuan pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Menurut beliau juga, tujuan pendidikan adalah penguasaan diri, sebab disinilah pendidikan memanusiakan manusia (humanisasi). Penguasaan diri merupakan langkah yang dituju untuk tercapainya pendidikan yang memanusiawikan manusia. Ketika peserta didik mampu menguasai dirinya, maka mereka akan mampu untuk menentukan sikapnya. Dengan demikian akan tumbuh sikap yang mandiri dan dewasa. Beliau juga menunjukkan bahwa tujuan diselenggarakannya pendidikan adalah membantu peserta didik menjadi manusia yang merdeka. Menjadi manusia yang merdeka berarti tidak hidup terperintah, berdiri tegak dengan kekuatan sendiri, dan cakap mengatur hidupnya dengan tertib. Dengan kata lain, pendidikan menjadikan seseorang mudah diatur, tetapi tidak dapat disetir.

Pada Aksi Nyata 1.4 ini, penulis berusaha mewujudkan visi bersama yakni mewujudkan murid yang sejahtera, mandiri dan berbudaya dengan mengedepankan nilai kolaboratif dan peran mewujudkan kepemimpinan murid.

Visi ini selaras dengan kondisi lingkungan murid yang sarat dengan budaya Jawa yaitu lingkungan pembuat wayang, gamelan dan pemain wayang orang, penari dan sebagainya. Diharapkan dengan pencapaian visi ini di masa depan mereka bisa mengembangkan bakat alam mereka dengan baik sehingga menjadi insan yang sejahtera, mandiri dan berbudaya. Penulis menggali satu sikap yang ada pada visi dan juga termasuk dalam nilai yang dipunyai profil pelajar Pancasila yaitu ‘mandiri’.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mandiri adalah tidak tergantung pada orang lain, sedangkan kemandirian adalah keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Mandiri termasuk budaya positif karena mengandung nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab.

Adapun Tujuan dari Aksi Nyata ini adalah sebagai berikut :

1. Kemandirian dijadikan satu dari keyakinan kelas yang dibuat murid.

2. Mewujudkan murid sebagai pemimpin pembelajaran yang mempunyai sikap mandiri dan bertanggung jawab.

3. Mewujudkan pembelajaran yang ‘Tut Wuri Handayani’, guru hanya sebagai fasilitator bukan sumber ilmu.

4. Mewujudkan visi bersama yaitu murid yang sejahtera, mandiri dan berbudaya

    

   Penulis menerapkan aksi nyata dengan memperhatikan kondisi lapangan. Karena situasi pembelajaran masih berupa tatap muka terbatas (PTM terbatas) maka penulis menerapkan strategi untuk mewujudkan aksi nyata ini secara daring maupun luring. Adapun langkah –langkah yang dilakukan Penulis adalah sebagai berikut :

1. Berkolaborasi dengan Kepala Sekolah, rekan sejawat baik guru maupun staf sekolah, orang tua murid terkait dengan kemandirian murid dengan melakukan survey dan interview berdasarkan pengamatan ataupun interaksi mereka dengan murid.

2. Melakukan riset kelas sendiri maupun survey digital tentang kemandirian.

3. Membuar indikator ketercapaian (tolok ukur keberhasilan)

4.Membuat rencana terkait penerapan collaborative teamwork untuk mengatasi kendala mewujudkan kemandirian murid.

5. Melakukan kolaborasi dengan pihak terkait untuk mewujudkan kemandirian murid.

 Penulis menuliskan tolok ukur keberhasilan aksi nyata adalah sebagai berikut :

1. Banyak guru memotivasi murid untuk membuat mandiri menjadi keyakinan kelas

2. Murid menjadi pemimpin pembelajaran yang mempunyai sikap mandiri dan bertanggung jawab.

3. Terwujudnya pembelajaran yang ‘Tut Wuri Handayani’, guru hanya sebagai fasilitator bukan sumber ilmu.

4. Terwujudnya visi bersama yaitu murid yang sejahtera, mandiri dan berbudaya.

 

Ada beberapa tantangan yang dihadapi penulis dalam melaksanakan kegiatan ini yaitu ;

1. Terlalu lamanya kegiatan daring membuat murid menjadi ‘malas’ dan kurang mandiri dalam belajar.

2. Kurangnya antusisme guru untuk mewujudkan kemandirian pada murid.

3. Banyak orang tua yang kurang peduli dengan kemandirian pada anaknya.

 

   Selanjutnya
Penulis membuat keyakinan kelas pada kelas yang diampu baik secara daring maupun luring serta mensosialisasikannya dengan rekan guru lain dengan mengadakan workshop penularan materi filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara dan Budaya Positif di sekolah, berkolaborasi dengan guru BK maupun orang tua murid untuk mengatasi murid yang kurang mandiri.

HASIL AKSI NYATA

                                    


Kolaborasi dengan Kasek terkait kemandirian murid

Wujud kemandirian murid pada class meeting secara daring 

Kolaborasi dengan orang tua mengatasi murid kurang mandiri

Wujud Kemandirian murid belajar di perpustakaan dan menata buku

Diskusi selama pembelajaran wujud kemandirian