Ki Hajar Dewantara menyebutkan
tujuan pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak
agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya
baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Menurut beliau juga, tujuan pendidikan adalah penguasaan
diri, sebab disinilah pendidikan memanusiakan manusia (humanisasi). Penguasaan
diri merupakan langkah yang dituju untuk tercapainya pendidikan yang
memanusiawikan manusia. Ketika peserta didik mampu menguasai dirinya, maka
mereka akan mampu untuk menentukan sikapnya. Dengan demikian akan tumbuh sikap
yang mandiri dan dewasa. Beliau juga menunjukkan bahwa tujuan
diselenggarakannya pendidikan adalah membantu peserta didik menjadi manusia
yang merdeka. Menjadi manusia yang merdeka berarti tidak hidup terperintah,
berdiri tegak dengan kekuatan sendiri, dan cakap mengatur hidupnya dengan
tertib. Dengan kata lain, pendidikan menjadikan seseorang mudah diatur, tetapi
tidak dapat disetir.
Pada Aksi Nyata 1.4 ini, penulis
berusaha mewujudkan visi bersama yakni mewujudkan murid yang sejahtera, mandiri dan
berbudaya dengan mengedepankan nilai kolaboratif dan peran mewujudkan
kepemimpinan murid.
Visi ini selaras dengan kondisi lingkungan murid yang sarat
dengan budaya Jawa yaitu lingkungan pembuat wayang, gamelan dan pemain wayang
orang, penari dan sebagainya. Diharapkan dengan pencapaian visi ini di masa
depan mereka bisa mengembangkan bakat alam mereka dengan baik sehingga menjadi
insan yang sejahtera, mandiri dan berbudaya. Penulis menggali satu sikap yang
ada pada visi dan juga termasuk dalam nilai yang dipunyai profil pelajar
Pancasila yaitu ‘mandiri’.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mandiri adalah
tidak tergantung pada orang lain, sedangkan kemandirian adalah keadaan dapat
berdiri sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Mandiri termasuk budaya
positif karena mengandung nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan
kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid agar murid dapat
berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab.
Adapun Tujuan dari Aksi Nyata ini adalah sebagai berikut :
1.
Kemandirian dijadikan satu dari keyakinan kelas yang dibuat murid.
2. Mewujudkan murid sebagai pemimpin
pembelajaran yang mempunyai sikap mandiri dan bertanggung jawab.
3. Mewujudkan pembelajaran yang ‘Tut
Wuri Handayani’, guru hanya sebagai fasilitator bukan sumber ilmu.
4. Mewujudkan visi bersama yaitu murid yang
sejahtera, mandiri dan berbudaya
Penulis menerapkan aksi nyata dengan memperhatikan kondisi lapangan. Karena situasi pembelajaran masih berupa tatap muka terbatas (PTM terbatas) maka penulis menerapkan strategi untuk mewujudkan aksi nyata ini secara daring maupun luring. Adapun langkah –langkah yang dilakukan Penulis adalah sebagai berikut :
1. Berkolaborasi
dengan Kepala Sekolah, rekan sejawat baik guru maupun staf sekolah, orang tua
murid terkait dengan kemandirian murid dengan melakukan survey dan interview
berdasarkan pengamatan ataupun interaksi mereka dengan murid.
2. Melakukan riset
kelas sendiri maupun survey digital tentang kemandirian.
3. Membuar indikator
ketercapaian (tolok ukur keberhasilan)
4.Membuat rencana
terkait penerapan collaborative teamwork untuk mengatasi kendala mewujudkan
kemandirian murid.
5. Melakukan
kolaborasi dengan pihak terkait untuk mewujudkan kemandirian murid.
Penulis menuliskan tolok ukur keberhasilan aksi nyata adalah sebagai berikut :
1.
Banyak guru memotivasi murid untuk membuat mandiri menjadi keyakinan kelas
2. Murid menjadi pemimpin
pembelajaran yang mempunyai sikap mandiri dan bertanggung jawab.
3. Terwujudnya pembelajaran yang
‘Tut Wuri Handayani’, guru hanya sebagai fasilitator bukan sumber ilmu.
4. Terwujudnya visi bersama yaitu murid yang
sejahtera, mandiri dan berbudaya.
Ada beberapa tantangan yang dihadapi penulis dalam melaksanakan kegiatan ini yaitu ;
1. Terlalu lamanya
kegiatan daring membuat murid menjadi ‘malas’ dan kurang mandiri dalam belajar.
2. Kurangnya antusisme
guru untuk mewujudkan kemandirian pada murid.
3. Banyak orang tua
yang kurang peduli dengan kemandirian pada anaknya.
Selanjutnya
Penulis
membuat keyakinan kelas pada kelas yang diampu baik secara daring maupun luring
serta mensosialisasikannya dengan rekan guru lain dengan mengadakan workshop
penularan materi filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara dan Budaya Positif di
sekolah, berkolaborasi dengan guru BK maupun orang tua murid untuk mengatasi
murid yang kurang mandiri.
HASIL AKSI NYATA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar